MAKALAH TUGAS MATA KULIAH PENGOLAHAN CITRA GUNADARMA

TUGAS MATA KULIAH PENGOLAHAN CITRA

 

 

 



 

 NAMA : IRZA ORVALA ALFANDI

KELAS : 4IA16

 

 

 

UNIVERSITAS GUNADARMA

 

 

 

 

 

Pengertian Pengolahan Citra

 

Pengolahan citra (image processing) merupakan suatu sistem di mana proses dilakukan dengan masukan berupa citra (image) dan hasilnya juga berupa citra (image). Pada awalnya pengolahan citra  ini diilakukan untuk memperbaiki kualitas citra, namun dengan berkembangnya dunia komputasi yang ditandai dengan semakin meningkatnya kapasitas dan kecepatan proses komputer,  serta munculnya ilmu-ilmu komputasi yang memungkinkan manusia dapat mengambil informasi dan suatu citra, maka image processing tidak dapat dilepaskan dengan bidang computer vision.  Sesuai dengan perkembangan komputer vision itu sendiri, pengolahan citra mempunyai dua tujuan utama, yakni sebagai berikut :

 

1.      Memperbaiki kualitas citra, di mana citra yang dihasilkan dapat menampilkan informasi secara jelas atau dengan kata lain manusia dapat melihat informasi yang diharapkan dengan menginterprestasikan citra yang ada. Dalam hal ini interprestasi terhadap informasi yang ada tetap dilakukan oleh manusia.

 

2.      Mengekstraksi informasi ciri yang menonjol pada suatu citra, di mana hasilnya adalah informasi citra di mana manusia mendapatkan informasi ciri dan citra secara numerik atau dengan kata lain komputer (mesin) melakukan interprestasi terhadap informasi yang ada pada citra melalui besaran-besaran data yang dapat dibedakan secara jelas (besaran-besaran berupa ini besaran numerik).

 

Operasi-operasi yang dilakukan didalam pengolahan citra dapat diklasifikasikan dalam beberapa jenis sebagai berikut :

 

1.      Perbaikan citra (image restoration)

2.      Perbaikan kualitas citra (image enhancement)

3.      Pemampatan citra (image compression)

4.      Segmentasi Citra (Image Segmentation)

5.      Analisis Citra (Image Analysis)

6.      Rekonstruksi citra (image reconstruction)

 

Pengolahan Citra Bidang Hukum

 

            Teknologi Pengaman, suatu system mengalami kemajuan pesat akibat dari pesatnya perkembangan pengolahan citra pada bidang biometrika. Sebagai contoh pemanfaatan sidik jari, iris, wajah, dan biometrika yang lainnya untuk system identifikasi seseorang.

 

Berikut Contoh aplikasi citra dalam bidang keamanan dan hukum :

 

a.       Pengenalan pola sidik jari (finger print).

Fingerprint Time Attendance Machine (Mesin absensi sidik jari) adalah salah satu mesin absensi  jenis biometrik yang menggunakan metode pendeteksian melalui sidik jari karyawan untuk mendata daftar kehadiran karyawan.

 

 

b.      Rekonstruksi wajah pelaku kejahatan.

Aplikasi face recognition adalah software komputer yang berguna untuk mengenali wajah manusia dengan menggunakan model 3D. Setiap wajah memiliki kontur khusus yang membedakannya dengan wajah yang lain yakni terdapat 80 titik kontur yang dapat diukur dengan software, di antaranya adalah jarak antara kedua mata, lebar hidung, kedalaman lekuk mata, bentuk tulang pipi, dan panjang rahang. Titik-titik kontur tersebut diukur menggunakan kode numerik, disebut faceprint, yang disimpan dalam database.

 

c.       Pengenalan pola hasil uji balistik.

EBV4 Exterior Ballistics Software adalah program yang menghitung lintasan benda melalui atmosfer seperti pengamatan gerak peluru yang ditembakkan dari senjata ringan, baik di pendek dan pada rentang panjang sehingga hasil yang didapat adalah ilustrasi dari gerak peluru tersebut.

 



A.    Analisis Aplikasi Sidik Jari (Finger Print)

 

Sejak dulu sidik jari telah diketahui keunikannya, bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang memiliki sidik jari yang sama persis. Sehingga telah dimanfaatkan untuk pengenalan dan pelacakan identitas seseorang. Dalam sepuluh tahun terakhir, ketertarikan pada sidik jari berdasarkan sistem biometrik telah tumbuh secara signifikan. Tentu saja harapan adanya sistem identifikasi yang cepat dan tepat bukan hanya untuk pencarian dan pembuktian pelaku kejahatan, tetapi juga diharapkan dapat menjadi pengganti cara-cara pengamanan konvensional misalnya dengan password dan PIN.



 

Sistem biometrik adalah metode pembuktian atau pengenalan otomatis identitas dari seseorang berdasarkan beberapa karakteristik fisik, seperti sidik jari atau pola iris mata, atau beberapa aspek kebiasaan seperti tulisan tangan dan tanda tangan.

 

Hal ini berkembang pada dunia pendidikan dan industri dengan adanya kelompok peneliti dan perusahaan yang mengembangkan algoritma dan teknik baru untuk pengenalan pola seperti berbagai peralatan sensor biometrik yang telah dikembangkan dewasa ini. Sistem pengenalan sidik jari harus mampu mengidentifikasi sidik jari seseorang dari sekumpulan besar basis data sidik jari. Hal ini merupakan masalah tersendiri bagi efisiensi sistem identifikasi. Sehingga digunakanlah berbagai pendekatan klasifikasi berdasarkan ciri umum yang tampak pada sidik jari. Selama ini pengklasifikasian sidik jari menggunakan pengklasifikasian eksklusif (exclusive classification), yaitu citra dibagi menjadi beberapa kelas berdasarkan ciri makro.

 

Penelitian ilmiah pertama dilakukan oleh F. Galton pada tahun 1892, yang membagi sidik jari pada tiga kelas besar. Kemudian E.R Henry pada tahun 1900, memperbaharui klasifikasi Galton dengan menambah jumlah kelas.

 

Cara ini dipopulerkan pada awal 1900-an, pengambilan sidik jari di lokasi kejadian dilakukan untuk mencari tahu jati diri si pelaku kejahatan. Polisi akan menyesuaikan sidik jari dengan mengidentifikasi titik-titik kecil yang ditemukan di dalamnya. Biasanya kita sering mendenga dengan istilah Tim Forensik.

 

Untuk menentukan titik mana yang harus dicocokkan, para penyelidik mula-mula harus mengidentifikasi jenis sidik jari. Polisi di berbagai negara mungkin memiliki klasifikasi sidik yang berbeda, namun pada dasarnya ada empat tipe dasar:

 

a.       Lengkungan Tenda



Mirip dengan lengkungan biasa, tapi sedikitnya satu garis harus bersudut 45 derajat atau lebih.

 

 

b.      Spiral



Sedikitnya satu garis membuat putaran penuh 360 derajat mengelilingi pusat sidik jari.

 

 

 

 

c.       Simpul



Satu atau lebih garis masuk dan keluar jari pada sisi yang sama.


d.      Titik Galton

Detail kecil ditemukan di seluruh garis dalam sidik jari. FBI, misalnya, menggunakan sistem pencocokan 12 titik dari satu sidik dengan titik dari sidik lainnya untuk memastikan keakuratan pencocokan sidik. Para pakar menyusun 19 tipe yang ada pada titik ini, tapi ada empat tipe dasar:

 

• Ujung garis

• Bilik tertutup

• Percabangan

• Pulau



 

Pada pencitraan sidik jari ini yang diolah juga dengan menggunakan komputer, untuk memperjelas sidik jari seseorang agar lebih mudah untuk mengindentifikasi pelaku kejahatan tersebut. Karena terkadang data yang didapat dari TKP (Tempat Kejadian Perkara) cenderung kurang jelas/samar, maka dari itu diolah kembali untuk mendapat informasi yang lebih riil tentang struktur sidik jari tersebut.

 

Skema klasifikasi inilah yang akhirnya digunakan oleh agen-agen polisi. Dalam penelitian ini dilakukan pendekatan pembagian arah partisi citra sidik jari dengan menggunakan template.

 

Template terlebih dahulu harus dibuat, yaitu dengan mencari sejumlah sidik jari yang mempunyai kelas sama, kemudian dilakukan pembentukan template. Dari template-template inilah kita mengambil ciri yang makro dari kelas sidik jari. Pada tahap klasifikasi, template tersebut dicocokan dengan berkas citra sidik jari. Pencocokan template dengan berkas citra sidik jari menghasilkan prosentase kecocokan antara template dengan berkas citra sidik jari. Metode ini sering disebut metode template matching.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber:

-https://blogger-kekinian.blogspot.com/2019/06/makalah-pengolahan-citra-dalam- bidang.html

- http://dian-ayunita.blogspot.com/2011/12/aplikasi-pengolahan-citra-di-bidang.html

- https://glints.com/id/lowongan/qr-code-adalah/#.YWGWdmJBxPZ

- http://diegomu.blogspot.com/2010/09/pengolahan-citra-dalam-bidang-hukum.html

           

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KONSEP DASAR NEW MEDIA